Antara PS2, Sepakbola, GP, dan Main Kartu
Tidak ada hubungan langsung antara semua bahasan yang saya tulis sebagai judul diatas. PS2 adalah sebuah fenomena di dunia game, sepakbola adalah olah-raga sejuta umat, (moto)GP adalah olah-raga adu nyali, sedangkan main kartu sering kita lakukan di kala senggang, hanya untuk menghabiskan waktu yang keliatan panjang banget.
Tadi malam, di rumah kami di Bekasi, semua itu terlihat saling berhubungan. Gara-gara mainan PS2 lenyap dari rumah karena dibawa si Om yang pindahan ke rumahnya sendiri, anak tertua saya jadi rajin ngajak saya dan adiknya main bola bareng, di dalam rumah, termasuk tadi malam J Hanya sebatas main kiper-kiperan, sambil bergaya layaknya CR7 yang jagoan nge-gocek bola, plus aksi si adik yang tiba-tiba menjatuhkan diri seperti Van der Saar yang lagi nangkep bola, ketika si kakak hendak menendang bola.
Lantas, apa hubungannya dengan GP dan main kartu?
Ceritanya, tadi malem, setelah capek main bola di dalem rumah, kita main kartu. Berempat, saya, ibunya anak-anak, si kakak, dan si embak yang momong si adik. Sudah menjadi kebiasaan kita di rumah, setiap ada acara siaran langsung motoGP, semuanya pasti nonton. TV kami kuasai, saya dan si kakak. Tak ada lagi sinetron yang biasanya menjadi menu harian J Seluruh penghuni rumah sudah tahu siapa itu Rossi, siapa itu Stoner, dan beberapa nama pembalap lain. Semuanya juga tahu kalau motoGP itu bukan balapan satu kali, tapi balapan setahun, yang terdiri dari beberapa seri.
Nah, itulah benang merah yang tergambar pada saat kami sekeluarga main kartu.
Main kartunya sebenarnya biasa saja, mirip permainan empat satu, tetapi saya memodifikasinya menjadi dua-lima saja. Permainan empat satu mungkin bagi sebagian kita seru, tetapi tidak bagi saya. Di dalam permainan empat satu, kartu yang berharga hanya kartu 10, Raja, dan kartu As. Kartu-kartu lain pasti dibuang. Permainan empat satu hanya enak dimainkan oleh paling banyak empat orang. Lha kalo orangnya kebetulan banyak padahal kartunya cuman ada satu set ?
Permainan dua-lima memiliki aturan yang sama persis dengan permainan empat satu. Semua kartu memiliki nilai sesuai dengan angka yang tertera, dengan setiap raja memiliki nilai 10, dan As bernilai 11. Tugas setiap pemain adalah menyusun empat buah kartu, sehingga total nilainya menjadi 25. Tidak seperti permainan empat satu, dimana kartu yang dicari dan dikumpulkan pemain hanyalah kartu-kartu besar: 10, raja, dan as, di permainan dua-lima, semua kartu bermanfa’at. Kenapa? Karena jumlah yang harus dicapai dengan 4 kartu di tangan, “hanya” 25. Bisa menggunakan banyak sekali kombinasi, misalnya : 5,8,3,9 (dengan kartu sejenis), 2,10,K,3 (tetap dengan kartu sejenis), atau 10,K,Q (sejenis), dan 5 (kartu beda). Semua dicari, baik itu kartu besar, kartu kecil, kartu sejenis, bahkan kartu yang berbeda jenis juga.
Di motogp, dan mungkin di semua jenis olah-raga ataupun permainan “berseri” lain, juara ditentukan setelah melakukan beberapa putaran permainan. Di rumah, yang paling hapal segala pernak-pernik motogp adalah anak pertama saya, si kakak. Jadi, sewaktu kita diskusi mengenai “berapa kali kita main ?” dengan spontan dia menjawab, “18 seri” J Delapan belas adalah jumlah seri yang harus dilakoni para pembalap GP tahun ini. Jika kami bertiga, maka permainan dua-lima kami menerapkan pola penilaian 3-1-0 (menang-draw-kalah). Nilai 3 untuk peserta yang paling dulu menurunkan kartunya yang sudah bernilai 25, nilai 1 untuk yang paling dekat dengan 25, dan nilai 0 untuk yang paling jauh. Jika ada peserta lain yang nilainya juga 25 (pada saat peserta lain sudah menurunkan kartu dengan nilai 25), maka si orang itu tetap harus diberi nilai 1, bukan 3. Tetapi jika dua peserta lain yang tidak menurunkan kartu nilainya sama, maka mereka berhak untuk mendapatkan masing-masing nilai 1 (tidak ada yang dapet 0). Peserta yang mendapat nilai 0, atau mendapat nilai total paling sedikit (jika tidak ada yang dapet 0 di putaran tersebut) –lah yang harus ngocok untuk putaran berikut.
Tadi malam, karena main berempat, akhirnya sistem penilaian kita ubah menjadi a-la motogp (selisih antara pembalap yang finish semakin turun), 6-3-1-0 (6 ke 3 berjarak 3, 3 ke 1 jaraknya 2, 1 ke 0 jaraknya 1).
Satu seri menjelang penentuan juara, komposisi nilai adalah AYAH: 40, ZALDY: 41, MAMA: 20, EMBAK: 21 …
Penentuan juara antara dua pembalap terdepan, dan pertarungan gengsi antara dua pembalap paling buncit :)
Akhirnya, si MAMA sukses menutup permainan, diikuti oleh sang AYAH, EMBAK, dan terakhir ZALDY.
Nilai berakhir di posisi : AYAH: 43, ZALDY: 41, MAMA: 26, dan EMBAK: 22 … :):):)
Si kakak langsung bilang, “Wuih, deg-deg-an banget nih. Malam yang cukup menegangkan. Besok aku mau balas dendam !” :)
Rekans punya anak yang sudah bisa tambah kurang ?
Nggak perlu suka motogp, nggak perlu bisa main bola atau PS2, cukup ajari nilai masing-masing kartu, lantas rasakan betapa manisnya duduk melingkar bertiga atau berempat bareng seluruh anggota keluarga. Sebuah kedekatan yang luar-biasa …
Salam dua-lima,
:):):)
ps: lagi nunggu sampe si Adik bisa tambah kurang J biar bisa kompetisi antar tim :)
